Cap Go Meh Singkawang: Berburu Kue Persembahan Untuk Zao Jun

Toko Inti Rasa di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, menjual kue keranjang sebagai hidangan wajib saat Imlek dan Cap Go Meh, Rabu, 12 Februari 2025. Foto: Diananta Sumedi/Banjarhits.co

Banjarhits.co, Singkawang - Halaman sebuah rumah toko berselimut terpal hijau di Jalan GM Situt, Kota Singkawang, itu tampil paling mencolok. Seorang perempuan sibuk melayani pembeli ketika banjarhits.co mendekati tempat penjualan kue tersebut, Rabu siang, 12 Februari 2025. Aneka macam oleh-oleh khas Singkawang menyesaki etalase toko Inti Rasa tersebut.

Hari itu, toko milik Marsela Giovani, ini baru buka lapak saat hari sudah siang. Maklum, Kota Singkawang sedang punya hajat besar pada hari kelima belas Imlek: parade Tatung dalam rangkaian puncak Festival Cap Go Meh 2025 dan perayaan Imlek 2576.

Tidak mudah menemukan toko penjualan kue keranjang saat parade Tatung. Banjarhits.co harus berjalan kaki menempuh jarak 2 kilometer, bertolak dari kantor Wali Kota Singkawang ke Toko Inti Rasa. Sebab, kendaraan dilarang melintasi ruas jalan-jalan utama selama parade Tatung di Kota Singkawang.

Marsela yang seorang keturunan Tionghoa pun larut dalam rangkaian perayaan tahun baru Imlek. Menurut dia, kue keranjang paling diburu oleh masyarakat Tionghoa saat Imlek dan Festival Cap Go Meh karena hidangan wajib di tengah keluarga.

Alhasil, Marsela paling menungggu-nunggu momen Imlek dan Cap Go Meh karena penjualan kue keranjang melonjak. Tahun 2024, ia masih ingat penjualan kue keranjang lesu seiring peniadaan parade Tatung, pawai lampion, dan pameran UMKM, karena bertepatan tahapan pemilihan umum.

Namun pada 2025, Marsela mencatat ada peningkatan penjualan kue keranjang. “Ada peningkatan 40 persen, dari sebelum Imlek sampai hari ini Cap Go Meh. Penjualan per hari bisa  20 kilogram sampai 30 kilogram. Bahkan satu hari bisa 40 kilogram,” kata Marsela Giovani kepada Banjarhits.co, Rabu, 12 Februari 2025.

Marcela Giovani menunjukkan kue keranjang yang dijual ukuran besar dan kecil di Toko Inti Rasa, Kota Singkawang, Rabu 12 Februari 2025. Foto: Diananta Sumedi/Banjarhits.co 

Untuk ukuran kecil, ia menjual Rp 15 ribu; dan Rp 30 ribu untuk ukuran besar kue keranjang.  Kue keranjang yang ia jual merupakan produk buatan asli Kota Singkawang. Ia cuma menjual kue keranjang saat momen Imlek dan Cap Go Meh. Sebab, kata Marsela: “Peminatnya kurang kalau hari biasa.”

Menurut dia, kue keranjang punya daya tahan empat-lima hari. Lebih dari itu, kue keranjang mulai berjamur. Marsela percaya makan kue keranjang bisa menambah umur. “Kalau tradisi kami setelah makan kue keranjang ini tambah satu umur. Jadi setiap rumah wajib ada kue  keranjang,” lanjut Marsela.

Umat Konghucu menjadikan kue keranjang hidangan wajib untuk persembahan saat sembahyang di klenteng pada hari pertama dan keempat Imlek. Kue ini biasanya dibuat satu pekan sebelum masuk tahun baru Imlek. Alhasil, satu sampai dua hari sebelum Imlek, umat Konghucu mulai mendatangi tempat-tempat penjualan kue keranjang.

“Malam Imlek kue keranjang dibawa ke sini. Ada yang sehabis sembahyang dibawa pulang lagi, ada yang sehabis sembahyang ditaruh di klenteng. Kalau dibawa pulang ada kepercayaan untuk makan sekeluarga supaya sejahtera dan keselamatan,” kata Akiat, pengurus Klenteng Kwan Tie Bio di Kota Pontianak.

Akiat mengatakan ada dua alasan kue keranjang dijadikan hidangan wajib saat Imlek. Pertama, kata dia, kue keranjang dipercaya bisa meredam kebocoran atap rumah karena Hari Raya Imlek kerap disertai turun hujan. “Kepercayaan dari orang tua kalau Imlek bulan satu, tanggal 10 Imlek itu kan sering hujan, nah makan kue ini supaya jangan sering hujan,” ucap Akiat.

Adapun alasan kedua, lanjut Akiat, kue keranjang untuk persembahan kepada para dewa.

Budayawan Tionghoa di Kota Singkawang, Dji Sye Lim,  menuturkan penamaan kue keranjang yang dikenal di Indonesia sejatinya berasal dari kawasan Tiongkok selatan, terutama budaya masyarakat Tiociu atau Teochew, Hokkian, dan Hakka. Dalam bahasa Hakka, kata Dji, kue keranjang disebut thiam pan dan ti kwe dalam bahasa Hokkian.

Penganut Konghucu sedang sembahyang di Klenteng Kwan Tie Bio, Kota Pontianak, pada Sabtu, 15 Februari 2025. Foto: Diananta Sumedi/Banjarhits.co

Thiam artinya manis, dan pan itu kue. Jadi kue yang sangat manis. Terbuat dari beras ketan yang digiling, ditumbuk, dikukus, dicampur gula putih, dan gula merah. Itu hanya dikenal di masyarakat Tiociu, Hokkian, dan Hakka, di Tiongkok Selatan. Namanya kue keranjang,” ujar Dji Sye Lim.

Adapun penamaan kue keranjang karena adonan kue dibuat dari daun pisang dilapisi potongan bambu. Sebab, kata Dji, masyarakat Tionghoa kuno belum mengenal cetakan aluminium dan plastik. “Keranjangnya dibuat dari bambu dan dibungkus daun pisang,” kata Dji.

Selain itu, lanjut Dji, masyarakat Tiongkok utara mengenal sejenis kue keranjang dengan penamaan nian gao yang terbuat dari campuran beras ketan dan padi. Pengolahan nian gao mirip thiam pan dan ti kwe, lalu diberi pewarna kuning, coklat, dan putih. Alhasil, menurut Dji, tekstur nian gao pun serupa kue keranjang: kenyal.

Masyarakat Tionghoa percaya bahwa kue keranjang menyimpan filosofi kehidupan. Dji menjelaskan, nian artinya tahun, dan gao bermakna tinggi atau bisa disebut kue. Dengan menyantap nian gao yang berasa manis saat Imlek, menurut Dji, masyarakat Tiongkok utara mengharapkan keberhasilan lebih tinggi, bahagia dalam hidup, dan tidak sengsara. Kata Dji, manis itu simbol kebahagiaan dalam kehidupan, bukan pahit atau sengsara.

“Kenapa harus bulat? Karena melambangkan persatuan dalam keluarga. Maka dalam budaya Tionghoa setiap keluarga wajib ada kue keranjang sebagai simbol persatuan dan keluarga harmonis dengan mengharapkan kehidupan lebih bahagia, lebih baik, dan sejahtera,” kata Dji.

Kepercayaan umat Konghucu mempersembahkan kue keranjang sebagai sesaji untuk Dewa Dapur atau Zao Jun, karena diyakini Dewa Dapur pada bulan Imlek  akan melapor ke Dewa Langit atau Kaisar Giok. Menurut Dji, dengan memakan yang manis-manis di setiap rumah, Dewa Dapur akan melaporkan hal-hal kebaikan perilaku pemilik rumah ke Kaisar Giok.

Adapun menurut keyakinan masyarakat etnis Hakka, kue keranjang akan dimakan pada hari keduapuluh atau dua puluh satu Imlek. Selain dimakan, kata Dji, kue keranjang yang bertekstur lengket dan kenyal, itu biasa dipakai menambal atap rumah yang bocor.  “Mereka akan makan yang sudah dipersembahkan ke dewa, ditaruh di rumah, sudah jamuran dan dicuci lagi,” kata Dji. (Diananta Putra Sumedi)

https://www.youtube.com/watch?v=-NbGbZq2D3k

Lebih baru Lebih lama


PT. Baramarta
Iklan

نموذج الاتصال